Sejarah Perang Diponegoro (1825 - 1830)

 on Saturday, 29 March 2014  

Perang Diponegoro (1825 - 1830)
Putra Sultan Hamengkubuwono III yang lahir pada 1785 diberi nama Raden Mas Ontowiryo, kemudian dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro. Sejak kecil beliau diasuh oleh Ratu Ageng Janda Hamengkubuwono I.

Pangeran Diponegoro sangat sedih melihat penderitaan rakyat saat itu. Tanah-tanah rakyat diambil untuk dijadikan perkebunan Belanda. Kebencian Pangeran Diponegoro tambah memuncak setelah
mengetahui bahwa Belanda mematok tanah leluhurnya untuk dijadikan jalan antara Magelang-Tegalrejo. Bersama rakyat, Pangeran Diponegoro mencabuti patok-patok tersebut dan diganti dengan tombak. Atas tindakan Pangeran Diponegoro, Belanda marah dan menandakan tantangan perang.

Perang Diponegoro terjadi pada 12 Juli 1825 dan berakhir pada 1830. Berikut ini adalah sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro:
a) masuknya pengaruh Barat dalam lingkungan keraton, seperti minum-minuman keras;
b) Belanda akan mempersempit kekuasaan raja-raja; dan
c) rakyat menderita akibat tingginya pajak dan kerja paksa.

Dalam perlawanannya melawan Belanda, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangku Bumi, Kyai Maja, Sentot Alibasyah Prawirodirjo dari kalangan muda. Pangeran Diponegoro dalam
pepe-rangannya menggunakan sistem gerilya. Sedangkan, Belanda menggunakan sistem Benteng Stelse.

Pangeran Diponegoro juga disebut sebagai pahlawan dari Gua Selarong. Karena, Pangeran Diponegoro ketika sampai di Selarong ia bertapa di gua tersebut. Dalam peperangan tersebut banyak pasukan

Belanda yang tewas. Akibat Belanda sering mengalami kekalahan dan perang berlangsung lama, maka banyak memakan biaya perang. Untuk menghentikan peperangan tersebut, Belanda mengeluarkan siasat, yaitu:

a) Belanda mengembalikan Sultan Hamengkubuwono II (Kakak Pangeran Diponegoro) yang dibuang ke Penang oleh Raffles. Pangeran Diponegoro tetap melanjutkan peperangan.
b) Belanda akan memberikan hadian sebesar 50.000 Gulden kepada siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro.
c) Belanda menangkap Kencono Wungu (Ibu Pangeran Diponegoro), tetapi juga tidak menyurutkan semangat perangnya, usaha itu juga tidak berhasil.

Setelah peperangan berlangsung tiga tahun, Kyai Maja dan Sentot Alibasyah tertangkap. Akan tetapi, Pangeran Diponegoro tetap semangat melanjutkan peperangan untuk mengusir Belanda dari tanah
Jawa.

Dengan tipu daya, Belanda mengajak Pangeran Diponegoro berunding. Perundingan itu diadakan di Magelang di rumah seorang residen. Bila perundingan itu gagal, Pangeran Diponegoro boleh
kembali ke tempatnya. Pada 18 Maret 1830 perundingan dimulai, Belanda dipimpin oleh Jenderal De Kock, panglima perang Belanda. Akan tetapi, Pangeran Diponegoro malah ditangkap dan dibuang
ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makasar sampai wafatnya 8 Januari 1855.
Sejarah Perang Diponegoro (1825 - 1830) 4.5 5 om Saturday, 29 March 2014 Perang Diponegoro (1825 - 1830) Putra Sultan Hamengkubuwono III yang lahir pada 1785 diberi nama Raden Mas Ontowiryo, kemudian dikenal denga...


No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.