Konflik status adalah pertentangan yang terjadi dalam diri seseorang sebagai akibat kedudukan yang dimilikinya. Secara khusus, konflik status dapat dibedakan ke dalam tiga jenis berikut ini.
1) Konflik yang bersifat individual
Konflik ini terjadi di dalam diri individu sendiri, yang berkaitan dengan kepemilikan kedudukan yang lebih dari satu. Pada proses ini, individu akan dihadapkan pada dua pilihan di mana salah satu kedudukan akan dikorbankan atau terpinggirkan.
Contohnya seorang hakim yang harus menghukum anaknya karena terlibat korupsi. Atau seorang polisi yang harus menilang istrinya karena tidak membawa SIM pada saat mengendarai sepeda motor di jalan raya. Contoh lain adalah seorang kepala sekolah yang harus mengeluarkan putranya sendiri dari sekolah karena terbukti menggunakan obat-obatan terlarang di sekolah. Tindakan ini dilakukan untuk menegakkan peraturan yang telah ditetapkan.
2) Konflik yang bersifat antarindividu
Konflik ini terjadi, apabila seseorang dalam kelompok memiliki perbedaan kepentingan terhadap suatu tujuan yang ingin dicapai.
Contoh:
Andi seorang anak yang manja, bahkan sangat manja. Suatu waktu, Andi meminta sebuah barang kepada ayahnya, tetapi tidak diberi. Andi malah dimarahi oleh ayahnya dengan tujuan untuk mendidik Andi supaya tidak manja. Melihat Andi dimarahi, maka ibu Andi membelanya. Dalam hal ini terjadi konflik antara ayah dengan Andi dan antara ayah dengan ibu Andi.
3) Konflik yang bersifat antarkelompok
Konflik ini terjadi apabila tidak ada kesesuaian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya yang berkaitan dengan suatu hal. Contohnya perang antarnegara, perselisihan antara dua perusahaan di pengadilan, dan perselisihan antara kontraktor dengan warga yang lahannya digunakan untuk proyek.
b. Simbol Status
Simbol status merupakan status yang dimiliki oleh seseorang karena kepemilikan barang-barang yang bersifat materi dan antara lain dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa ciri tertentu sebagai simbol status seseorang, di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Cara berpakaian
Dalam berpakaian antara orang kaya dengan orang miskin tentu akan berbeda jenis dan bahan yang
digunakannya. Orang kaya cenderung berbusana dengan mengenakan mode-mode yang sedang trend dan dari bahan-bahan yang mahal.
2) Cara bergaul
Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, umumnya orang-orang bergaul hanya dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Kelompok petani dengan kelompok pengusaha tentu akan berbeda cara bergaulnya.
3) Cara mengisi waktu senggang
Dalam mengisi waktu senggang, orang kaya biasanya melakukan berbagai aktivitas yang memerlukan banyak biaya, misalnya bermain golf atau berlibur ke luar negeri.
4) Bentuk rumah dan perabotannya
Orang yang membuat rumah dengan desain mewah dan menghiasinya dengan berbagai barang yang mahal harganya menunjukkan bahwa orang tersebut adalah orang kaya.
Dewasa ini gelar akademik yang dimiliki seseorang, juga dapat menjadi simbol status, karena gelar ini akan menjadi faktor pembeda di antara sesamanya. Gelar akademik yang dimiliki seseorang, akan mendapatkan penilaian yang lebih dalam pandangan masyarakat. Hal ini karena masyarakat masih memandang bahwa gelar yang diperoleh melalui jalur akademik telah memenuhi berbagai persyaratan dari disiplin ilmu yang telah dipelajarinya. Dampak negatifnya, banyak orang yang hanya mengejar gelarnya saja tanpa memerhatikan kualitas dari pendidikannya tersebut. Pernahkah kita menemukan seorang lulusan SMA yang lebih pintar dari seorang sarjana universitas terkemuka? Hal tersebut mungkin saja terjadi, apalagi pada saat ini. Gelar akademik yang dimiliki oleh seseorang seringkali hanya dijadikan tameng atau kebanggaan semata tanpa bisa mempertanggungjawabkannya.
No comments:
Post a Comment