a. Gerakan Amir Fatah
Pemberontak DI/TII yang terjadi di daerah Brebes, Tegal, dan Pekalongan di Pimpin oleh Amir Fatah. Ia diangkat oleh S.M.Kartosuwiryo menjadi komandan pertempuran Jawa Tengah, dengan pangkat Jendral Mayor TII. Untuk menumpas gerombolan DI/ TII tersebut, pada bulan Januari 1950 dibentuk suatu Komando Operasi yang disebut Gerakan Banteng Negara (GBN). OperasiBantengNegara berturut-turut dipimpin oleh Letkol Sarbini, Letkol .M. Bachrun, dan Letkol. Ahmad Yani. Daerah operasi dikenal dengan daerah GBN.
b. Gerakan Angkatan Umat Islam
Di daerah Kebumen, segera setelah pengakuan kedaulatan, terjadi pemberontakan yang dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam. Gerakan ini dipelopori oleh Kyai Moh. Mahfudz Abdurachman yang dikenal sebagai Kyai Somalangu. Gerombolan ini dapat ditumpas dalamwaktu tiga bulan, oleh pasukan divisi Diponegoro dibawah pimpinan Letkol. Ahmad Yani. Sedangkan sisa-sisa pemberontakan bergabung ke Gerakan Amir Fatah.
c. Pemberontakan Batalyon 426
Pemberontakan ini terjadi di Kudus dan Magelang pada bulan Desember 1951. Batalyon 426 ini menggabungkan diri dengan DI/TII. Akibat pemberontakan itu, gerakan DI/TII di Jawa Tengah menjadi masalah amat berat. Untuk menumpas pemberontakan, Divisi Diponegoro melancarkan operasi militer bernama Operasi Merdeka Timur yang di pimpin oleh Letkol. Soeharto, komandan Brigade Pragolo. Kekuatan pemberontak dapat dihancurkan awal tahun 1952.
3. Gerakan DI/TII diKalimantan Selatan.
PemberontakanDI/TII diKalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hajar, seorang mantan letnan dua TNI. Ia menggalang gerakan bernama Kesatuan Rakyat yang Tertindas. Gerakan tersebut dinyatakan sebagai bagian dari DI/TII pimpinan Kaartosuwiryo. Sejak pertengahan Oktober 1950, gerakan yang digalang oleh Ibnu Hajar menyerang pos-pos TNI dan melakukan pengacauan di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Semula pemerintah masih memberikan kesempatan kepada pemberontak untukmenyerahkan diri dan diterima kembali kedalam Angkatan Perang RI. Ibnu Hajar memanfaatkan peluang itu dengan mengelabuhi pemerintah untuk memperoleh senjata. Setelah menerima perlengkapan persenjataan, Ibnu Hajar kembali melarikan diri dan melanjutkan pemberontakannya. Perbuatan demikian tidak hanya dilakukan satu kali, maka Pemerintah RI mengambil tindakan tegas untuk menggempur gerombolan Ibnu Hajar. Pada akhir tahun 1959, pasukan gerombolan tersebut dapat ditumpas, dan Ibnu Hajar berhasil ditangkap. Akhirnya pengadilan militer memutuskan hukuman mati.
4. Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan
Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakar. Latar belakang pemberontakan ini karena kekecewaan Kahar Muzakar atas keinginannya menggabungkan seluruh anggota Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ke dalamAPRIS di tolak oleh pemerintah. Alasan pemerintah anggota KGSS harus lulus dalam ujian penyaringan. Pemerintah sebenarnya telahmengambil kebijaksanaan untukmenyalurkan bekas-bekas gerilyawan ke dalam Korp Cadangan Nasional. Kahar Muzakar dilantik sebagai komandan Korp Cadangan Nasional dengan pangkat Letnan Kolonel. Niat baik pemerintah tersebut ditolak Kahar Muzakar. Pada saat pelantikannya akan di lakukan pada tanggal 17 Agustus 1951, Kahar Muzakar bersama pasukannya melarikan diri ke hutan, lengkap dengan senjata yang dimilikinya. Pada bulan Januari 1952, Kahar Muzakar menyatakan bahwa daerah Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Negara IslamIndonesia di bawah pimpinan Kartosuwiryo. Kahar Muzakar diangkat oleh Kartosuwiryo menjadi panglima Divisi TII. Kemudian sejak saat itu, selama lebih kurang empat belas tahun pasukan Kahar Muzakar melakukan teror dan pengacauan di Sulawesi Selatan. Pemerintah mengambil tindakan tegas dan mulai melancarkan operasioperasi militer, meskipun memakan waktu lama. Operasi militer berintikan dari Divisi Siliwangi. Pada bulan Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil di tembak mati.
5. GerakanDI/TII diAceh
GerakanDI/TII diAceh (NangroeAcehDarussalam) dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh. Ia adalah gubernur militer diwilayah Aceh semasa perang kemerdekaan. Namun, usai perang kemerdekaan dan Indonesia kembali ke dalambentuk negara kesatuan pada tahun 1950,Aceh yang sebelumnya menjadi daerah Istimewa diturunkan statusnya menjadi karesidenan dibawah Provinsi Sumatra Utara. Kebijakan pemerintah tersebut di tentang oleh Daud Beureuh. Pada tanggal 20 September 1953 DaudBeureuhmengeluarkanmaklumat tentang penyatuan Aceh kedalam Negara Islam Indonesia (NII) Kartosuwiryo. Pemberontakan DI/TII di Nangroe Aceh Darussalam disebabkan soal otonomi daerah, pertentangan antara golongan, dan tidak lancarnya rehabilitasi danmodernisasi daerah. Untukmenumpas pemberontakan tersebut, diselesaikan dengan kombinasi operasi militer dan musyawarah. Musyawarah dilaksanakan pada tanggal 17-28 Desember 1962. Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh tersebut merupakan gagasan Pangdam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Yasin. Berdasarkan musyawarah itu, pemerintah menawarkan amnesti kepada Daud Beureuh asalkan ia bersedia kembali ke tengahmasyarakat. Dengan kembalinya Daud Beureuh ke tengah masyarakat maka berakhirlah pemberontakan DI/TII di Nangroe Aceh Darussalam.
No comments:
Post a Comment