Belanda mulai melancarkan serangannya pada pukul 06.00 dengan menerjunkan pasukan payungnya di lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta. TNI dan Brimob segera mengadakan perlawanan, tetapi Belanda lebih kuat sehingga berhasilmasuk kota Yogyakarta. Presiden Sukarno danWakil Presiden Drs. Moh. Hatta yang sudah merasa bahwa sebentar lagi Belanda tentu akan memasukiYogyakarta, segera mengirimradiogramkepadaMenteri Kemakmuran Mr. Syafrudin Prawiranegara yang tengah berkunjung ke Bukittinggi, Sumatra. Isi radiogram berupa mandat agar Mr. Syafrudin Prawiranegara segera membentuk pemerintahan darurat RI di Bukittinggi, yang kemudian dikenal dengan nama Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Apabila mandat ini gagal dilaksanakan maka diperintahkan kepada Mr. Maramis, L.N. Palar, dan Dr. Sudarsono yang sedang berada di India untuk membentuk pemerintahan darurat RI di India. Sementara itu, Belanda telahmemasuki kotaYogyakarta. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta ditahan, demikian pula beberapa orang menteri. Oleh Belanda Presiden Sukarno dibuang ke Prapat, Sumatra, sedangkan Wakil PresidenMoh. Hatta dibuang ke Bangka. Tak lama kemudian BungKarno dipindahkan pula ke Bangka. Walaupun presiden dan wakil presiden dalam pembuangan, tetapi pemerintahan Indonesia tetap ada, yaitu di bawah Mr. Syafrudin Prawiranegara.
Pada waktu Belanda memasuki Yogyakarta, Panglima Besar Jenderal Sudirman segera memerintahkan agar tentara meninggalkan kota Yogyakarta dan bersama dengannya memasuki hutan. Pada saat itu dalam keadaan sakit maka dalam perjalanan Jenderal Sudirman selalu ditandu. Setelah berhasil menyusun kekuatan, Panglima Sudirman berusaha agar daerah yang dikuasai Belanda tidak berkembang. Tentara diperintahkan agar membatasi gerak pasukan Belanda dengan cara memutus rel-rel kereta api, jalan-jalan dan jembatan-jembatan.
Di samping itu, tentara juga mencegat Belanda yang melakukan konvoi, merampas senjata mereka, dan segera cepat-cepat kembali masuk ke hutan. Dengan demikian, Belanda tidak berhasil menguasai daerah daerah di luar kota. Siasat perang Panglima Sudirman ini dikenal dengan siasat perang gerilya. Dalam menghadapi agresi kedua Belanda ini TNI mendapat bantuan dari rakyat, para pelajar, dan mahasiswa. Mereka membentuk kesatuan-kesatuan seperti T P (Tentara Pelajar), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), TGP (Tentara Genie Pelajar). Mereka berlatih kemiliteran, berlatih perang untuk bergabung dengan TNI dan berjuang bersama-sama rakyat mengusir penjajah. Kesatuan-kesatuan tentara pelajar dan mahasiswa ini kemudian bergabung dalam Brigade 17 TNI.
No comments:
Post a Comment