a. Kenangan kejayaan bangsa-bangsa Asia-Afrika pada masa lampau, seperti kita ketahui
bahwa hampir semua wilayah di Asia dan Afrika yang terjajah saat itu adalah pusat peradaban
tua di dunia.
b. Adanya penderitaan akibat penjajahan yang kejam.
c. Munculnya golongan terpelajar atau cendikiawan yang secara langsung atau tidak
langsung ternyata memperoleh pendidikan dalam berbagai bidang dari para penjajah,
termasuk pendidikan politik.
d. Pengaruh dari perang di Asia yang dimenangkan oleh Jepang atas Rusia tahun 1905.
e. Kemajuan dalam bidang politik, seperti munculnya kelompok- kelompok partai politik,
bidang ekonomi dan sosial budaya yang semakin banyak mengetahui adanya persamaan
derajat dan martabat umat manusia di seluruh dunia. Gerakan nasionalisme Asia-Afrika
ini merupakan reaksi terhadap kaum imperialisme barat, yang terbagi atas dua macam
gerakan reaksi, yaitu:
a. Zelotisme, yaitu reaksi atau sikap menutup pintu wilayah mereka dari kekuasaan asing.
Atau dengan kata lain dikenal dengan isolasi dan perlawanan pasif.
b. Herodianisme, yaitu reaksi dengan taktis yang cerdik dengan cara mengikuti dan
menyadap informasi sebagai pengetahuan sebagai bekal untuk menindas para penjajah.
Indonesia berjuang keras menentang penjajah keadaan seperti itu boleh dikatakan sebagai Kebangkitan Nasional, artinya bangunnya seluruh kemampuan bangsa Indonesia untuk merdeka, dengan beberapa alasan utama sebagai berikut.
a. Penindasan yang dilakukan oleh penjajah Belanda, seperti diperlakukannya program tanam
paksa yang banyak merugikan para petani dan pemilik lahan.
b. Adanya pendidikan luar negeri yang diterima oleh sebagian bangsa Indonesia, baik yang
belajar dari negeri barat maupun negeri timur. Tetapi yang paling ber pengaruh ialah
pendidikan Barat ala Belanda yang diselenggarakan di Indonesia, walapun sebagian sekolah
hanya diperuntukkan oleh kelompok tertentu saja. Adapun jenis-jenis sekolah yang berperan
dalam perkembangan pendidikan masyarakat Indonesia saat penjajahan Belanda antara lain:
1) ELS (Europeesch Lagere School) atau HIS (Hollandsch Indische School) selama waktu
7 tahun sebagai pendidikan tingkat dasar,
2) Sekolah Lanjutan HBS (Hogere Burger School) dan AMS
(Algmenene Middelbare School) yang sekarang setingkat SMA,
3) Sekolah Bumi Putera (Inlandsche School) yang bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah,
4) Sekolah Desa (Volksch School),
5) Sekolah Desa Lanjutan (Vervolksch School),
6) MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat SMP, dan
7) Stovia (School Toot Opleiding van Inlandsche Artsen) yaitu sekolah Dokter Jawa yang lamanya
7 tahun kelanjutan dari MULO.
c. Munculnya gerakan Islam modern, yang dapat ber fungsi sebagai pemersatu bangas Indonesia
yang mayoritas beragama Islam, dan mereka tidak setuju dengan semua kebijakan Belanda
yang jauh dari aturan kehidupan Islam.
d. Dominasi ekonomi kaum Timur Asing terutama Cina, yang saat itu oleh Belanda
diberi keleluasaan dalam menguasai bidang perdagangan.
e. Perkembangan media pers sebagai alat komunikasi.
f. Diberlakukannya politik Etis yang merupakan politik balas jasa dari Belanda kepada Indonesia yang dicetus kan oleh Van de Venter, isinya dikenal dengan Trias Vandeventer yaitu irigasi, migrasi dan edukasi.
g. Ketidakpuasan dengan dibentuknya suatu sistem kehidupan diskriminasi. Bangsa Indonesia sebagai pribumi diposisikan sebagai golongan kelas tiga paling bawah setelah orang Eropa dan Timur Asing. Nasionalisme di Indonesia mengalami kemajuan sangat pesat saat organisasi Budi Utomo diakui secara resmi oleh pemerintah Belanda pada tahun 1908. Adapun tahapan nasionalisme yang berjalan di Indonesia sampai mencapai kemerdekaannya adalah sebagai berikut.
a. Nasionalisme sosial dan kebudayaan (1900–1912), di orientasikan pada perbaikan
dan perkembangan sistem kehidupan masyarakat pribumi.
b. Nasionalisme politik (1912–1921), mengarahkan pen duduk Indonesia untuk mengerti akan
politik dan saat itu banyak didirikan partai politik.
c. Nasionalisme militan (1921–1926), diketengahkan setelah bangsa Indonesia mengerti politik
dan per juangan organisasinya yang dilandasi dengan semangat militansi yang tinggi.
d. Nasionalisme politik radikal (1926–1933), menyadar kan segala macam aktivitas partai politik
dan organisasi yang berkembang dengan sifat non kooperatif.
e. Nasionalisme moderat (1933–1941), dikembang kannya sikap kebijakan partai untuk
mengambil keputusan yang matang.
f. Nasionalisme pendudukan Jepang (1942–1945), merupa kan tindakan terakhir yang
membawa dampak terhadap kemerdekaan Indonesia.
No comments:
Post a Comment