Sultan Hamid II berhasil dibujuk Belanda untuk mengadakan gerakan yang disebut Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Gerakan ini dipimpin oleh seorang Kapten Belanda bernama Westerling. Pada tanggal 23 Januari 1950Westerling dan pasukannya yang berjumlah sekitar 800 orang menyerbu kota Bandung. Mereka bergerak cepat pada pagi-pagi buta, sehingga kota Bandung sempat dikuasai gerombolan ini. Untuk menumpas gerombolan APRA, pemerintah mengirim pasukan yang diperkuat kesatuankesatuan polisi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke kota Bandung. Di Jakarta gerombolan APRA ternyata juga melancarkan gerakan untuk menumbangkan pemerintah Indonesia disertai rencana membunuh para menteri. Namun, berkat kesigapan pemerintah gerakan ini dapat digagalkan. SultanHamid II sebagai dalang gerakan ini berhasil ditangkap, sedangkan Westerling berhasil lolos ke luar negeri.
GerakanAndiAziz
Setelah terbentuknya negara RIS, pemerintah segera menggabungkan tentara KNIL dengan TNI menjadi Angkatan PerangRepublik Indonesia Serikat (APRIS). Namun Andi Aziz, bekas Kapten KNIL, menentang kehadiran TNI di Makasar dan menginginkan agar Negara Indonesia Timur (NIT) tetap berdiri yang mana Makasar termasuk di dalamnya. Untuk mencapai tujuan tersebut pada tanggal 5 April 1950 Andi Aziz melakukan gerakan di Makasar. Ia dan pasukannya berhasil menawan Panglima Teritorium Indonesia Timur Letkol. Ahmad Mokoginto. Pemerintah mula-mula mengultimatum agar Andi Aziz segera ke Jakarta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.Akan tetapi, ultimatum ini tidak dihiraukan Andi Aziz. Pemerintah kemudian menempuh dengan cara militer denganmengirimpasukan gabungan dari empat angkatan keMakasar di bawah pimpinanKolonelAlex Kawilarang. Pada tanggal 26 Maret 1950 pasukan pemerintah berhasilmendarat diMakasar. Dengan operasimiliter ini, pemerintah akhirnya dapat menumpas pemberontakanAndiAziz.AndiAziz tertangkap dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Setelah diusut, ternyata gerakanAndiAziz didalangi oleh Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil, bekas Jaksa Agung NIT.
3. Gerakan RepublikMaluku Selatan (RMS)
Kegagalan pemberontakan Andi Aziz tidak membuat Dr. Soumokil putus asa. Di Maluku ia berhasil menggalang kekuatan dan melancarkan pemberontakan baru. Pada tanggal 25April 1950 Dr. Soumokil mengumumkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS). Dalam proklamasinya, RMS terlepas dari RIS dan NIT. Pemerintah Indonesia segera mengutus Dr. Leimena untuk mengajak Dr. Soumokil berdamai. Namun Dr. Soumokil ternyata menolak tawaran damai ini. Oleh karena itu, pemerintah terpaksa menempuh operasimiliter untukmenumpas RMS di bawah pimpinan KolonelAlex Kawilarang. Pada bulan November 1950APRIS/TNI telah berhasilmenguasai sebagian besar Maluku termasuk kota Ambon. Dalam waktu singkat gerombolan RMS berhasil dihancurkan. Sisa-sisanya ada yang melarikan diri ke luar negeri. SedangkanDr. Soumokil juga berhasil lolos dan bersembunyi di dalamhutan di Pulau Seram. Gembong RMS tersebut baru tertangkap pada bulan Desember 1963. Di depan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) ia dijatuhi hukuman mati
4. Gerakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia)
Terjadinya pergolakan PRRI dan Permesta didahului dengan terbentuknya dewan-dewan di daerah-daerah oleh beberapa panglima tentara yang tidak memiliki loyalitas terhadap negara. Adapun nama dewan-dewan daerah yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Pemerintah melihat pembentukan dewan-dewan daerah itu sebagai benihbenih separatisme. Usaha pemerintah untuk membubarkan dewan-dewan
a. Dewan Gajah diketuai oleh KolonelMauludin Simbolon diMedan
b. DewanGaruda diketuai oleh LetnanKolonel Barlian di Sumatera Selatan
c. DewanManguni dibentuk oleh LetnanKolonelVentje Sumual diManado Daerah tersebut adalah:
a. Mengirim utusan ke Sumatera Tengah yang terdiri atas Kol. Dahlan Djambek, Zaenal
Abidin Ahmad, dan Eni Makarim.
b. Mengirim Suparman sebagai utusan ke Sumatera Selatan.
c. Mengirim Maengkom sebagai utusan ke Sulawesi Utara.
d. MenyelenggarakanKonferensi Panglima Tentara dan Teritoriumseluruh Indonesia pada
bulan Maret 1957.
e. Menyelenggarakan musyawarah nasional dan musyawarah nasional
pembangunan pada tanggal 14 September 1957.Pertentangan antara pemerintah pusat dengan beberapa daerahmakin lama makin meningkat. Masalah ekonomi dan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah menjadi penyebab utama pertentangan pusat dan daerah itu. Pada tanggal 9 Januari 1958 berlangsung pertemuan di Sumatera Barat, yang dihadiri oleh Letnan Kolonel Achmad Hussein, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dahlan Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis. Sedangkan dari pihak sipil hadir tokoh-tokoh, seperti M. Natsir, Syarif Usman, Burhanuddin Harahap dan Syafruddin Prawiranegara. Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai pembentukan pemerintahan baru serta hal-hal yang berhubungan dengan hal itu. Pada hari berikutnya tanggal 10 Februari 1958 Achmad Hussein pimpinan Dewan Banteng mengadakan rapat raksasa di Padang dan menuntut agar Kabinet Djuanda menyerahkan mandatnya kepada Presiden. Ia mengancam akan mengadakan gerakan jika tuntutannya itu tidak dipenuhi. Terhadap tuntutan tokoh-tokoh daerah tersebut, pemerintah menolak dan mengambil tindakan tegas, sebagai berikut:
a. Memecat LetnanKolonelAchmadHussein, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek,
dan Kolonel Simbolon dari jabatan militernya.
b. Membekukan Komando Daerah Militer Sumatera Tengah dan meletakkannya langsung
di bawah KSAD Mayor Jenderal A.H. Nasution.
Achmad Hussein menjawab tindakan pemerintah dengan memproklamasikan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Kabinet PRRI itu dipimpin oleh Perdana Menteri Syafruddin Prawiranegara . Untukmenghadapi gerakan PRRI, pemerintahmelaksanakan operasimiliter gabungan dariAD, AL danAU yang diberi nama Operasi 17Agustus di bawah komando KolonelAchmad Yani. Adapun tujuan operasi ini adalah:
a. Mematahkan gerakan separatis PRRI
b. Mencegah meluasnya gerakan separatis PRRI
c. Menangkal kemungkinan ikut campurnya kekuatan asing (intervensi)
sehubungan dengan warga negara serta modalnya yang ditanam di wilayah yang bergolak.
5. Gerakan Permesta
Seiring berdirinya PRRI di Bukittinggi, di Sulawesi Utara juga berdiri gerakan separatis yang menamakan diri Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Daerah kekuasaannya meliputi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Gerakan Permesta dipimpin oleh Letnan KolonelVentje Sumual, ketua Dewan Manguni yang didirikan di Menado. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan Permesta yaitu dengan melancarkan operasi militer yang diberi nama Operasi Merdeka di bawah komando Letnan Kolonel Rukminto Hendraningrat. Pada bulanApril 1958 operasi inimulai dilancarkan ke SulawesiUtara yang kemudian dilanjutkan ke daerah-daerah tempat pemberontak bergerilya.
No comments:
Post a Comment